Beranda > serba-serbi > Perempuan Pe Motivator Lingkungan

Perempuan Pe Motivator Lingkungan



Perempuan-Perempuan Motivator Lingkungan

Surabaya Berbunga 2009 berakhir 19 Desember lalu. Itu merupakan penyelenggaraan kelima Surabaya Green and Clean (SGC). Kompetisi lingkungan tersebut mampu membangkitkan semangat warga metropolis untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Keberhasilan itu tidak lepas dari peran para motivator lingkungan yang rajin blusukan ke kampung-kampung.

ADA 14 motivator lingkungan yang dimiliki Yayasan Unilever Peduli Indonesia. Mayoritas perempuan. Hanya empat orang yang laki-laki. Mungkin karena sasarannya lebih banyak ibu-ibu, para motivator itu lebih banyak yang perempuan.

Sesuai namanya, para motivator tersebut bertugas memotivasi warga kampung-kampung di Surabaya untuk peduli terhadap lingkungan. Mulai memilah sampah, membuat kompos, melakukan pembibitan, dan sebagainya. Para motivator itu keluar masuk kampung untuk mengajak warga menjadi kader lingkungan. Hingga kini, sudah sekitar 26 ribu warga Surabaya menjadi kader lingkungan.

Empat belas motivator tersebut dikomandani seorang perempuan muda yang masih melajang, yakni Nunuk Magfiroh. Perempuan kelahiran Blitar, 4 Januari 1981, itu merasa lega telah menyelesaikan pekerjaan besar, Surabaya Green and Clean yang tahun ini bertema Surabaya Berbunga. Selain Nunuk, ada tiga motivator lain yang juga tergolong pionir, yakni Yasmin, Slaviyanti, dan Nurul Ekawati.

”Rasa lelah langsung hilang begitu penyerahan award selesai,” ungkap Nunuk di lokasi pemotretan di TPS Keputih, Selasa (22/12). Dia juga senang melihat peserta yang gagal menjadi pemenang tetap menunjukkan semangat tinggi dalam menjaga lingkungan.

Menjadi motivator memang bukan pekerjaan mudah. Mereka harus tahan banting dan bermuka tebal. Khususnya saat berkeliling turun ke kampung-kampung. Setiap hari pekerjaannya bertemu, memotivasi, dan mengajak warga yang tidak pernah dikenal untuk lebih peduli terhadap lingkungan.

Karena tugasnya yang berat, awalnya Nunuk khawatir terhadap militansi timnya. Terlebih, timnya terdiri atas berbagai orang dengan latar belakang berbeda. Mulai yang single hingga yang sudah memiliki anak. ”Saya sering terharu sama mereka. Apalagi, sering harus pulang sampai larut malam,” ungkap putri ketiga pasangan Ichsan dan Solichah itu.

Saat pertama menerima pekerjaan sebagai motivator pada 2005, Nunuk sempat pesimistis pada tugas turun ke kampung itu. Sebagai gadis muda yang baru lulus kuliah dari Universitas Negeri Malang, turun ke lapangan bukanlah suatu hal yang keren. ”Hari gini, saat orang sedang susah mencari makan kok malah diajak ngomong sampah,” kenangnya.

Terlebih, saat itu dirinya langsung didapuk menjadi motivator. Dia sempat tidak percaya diri karena semasa kuliah tidak pernah bersentuhan dengan organisasi. Selain itu, sebagai orang Blitar yang kuliah di Malang, dia buta dengan peta Surabaya. Dia juga harus belajar memahami tipikal warga Kota Pahlawan. Karena itu, Nunuk mengakui, kerja timnya dulu sangat lemah.

Tapi, melalui Surabaya Green and Clean (SGC), dia bisa menempa banyak ilmu. Sebab, melalui sampah itulah Nunuk bisa bertemu orang-orang penting yang banyak menginspirasi. Dia menyebutkan sejumlah nama. Di antaranya, Wali Kota Bambang D.H., Wakil Wali Kota Arif Afandi, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Tri Rismaharini, serta manajer pemasaran Jawa Pos yang juga pencetus ide Surabaya Berbunga Ery Suhariadi.

”Orang-orang besar yang memiliki pemikiran hebat untuk mengubah Surabaya menjadi lebih baik,” ujar perempuan berambut pendek itu.

Nunuk juga bersyukur, selama menjadi motivator, dirinya memiliki kemudahan untuk bertemu langsung dengan Wali Kota Bambang D.H. Awalnya, dia berpikir, sebagai orang yang hanya lulusan D-3 teknik sipil, tidak bisa semudah itu bertemu pembesar-pembesar di Surabaya.

Ternyata, Nunuk salah. Bambang D.H. justru sangat terbuka diajak membahas masalah lingkungan. Dia menilai, orang nomor satu di Surabaya tersebut sangat peduli terhadap masalah kebersihan dan keindahan Surabaya. ”Mereka juga dengan senang hati bertukar pikiran untuk membuat Surabaya lebih menarik,” ungkapnya.

Karena itu, memasuki kompetisi SGC season II pada 2006, dia semakin bersemangat. Koordinasi dengan Jawa Pos langsung digiatkan. Darah mudanya mengalir untuk mengalahkan segala bentuk ketakutannya. ”Kesempatan besar ini jangan sampai disia-siakan. Sebab, tidak semua orang mempunyai kesempatan yang sama seperti saya untuk menimba ilmu dari orang-orang penting itu,” tegasnya.

Semangatnya sempat patah saat kompetisi SGC 2006 berlangsung. Sebab, muncul protes dari warga salah satu kampung yang menjadi peserta SGC. Warga tersebut salah memersepsikan statemen yang dia lontarkan di media massa. ”Saat itu kali pertama intens berkomunikasi dengan wartawan. Tapi, statemen saya malah dikomplain banyak orang,” ucapnya lantas terbahak.

Bukan hanya itu, saat SGC direplikasi di Jogjakarta pada 2007, badai yang menerpa tetap kuat. Usianya yang masih relatif muda saat itu, yakni 26 tahun, ternyata belum membuat dirinya matang menjadi motivator. Teguran atas kinerjanya terus berdatangan. Kadang, kalau kejengkelan sudah sampai ubun-ubun, Nunuk uring-uringan dan ingin menyerah.

Beruntung, banyak yang terus mendukung dan menyemangati. Salah satu yang pernah memberi dukungan adalah Tjahjani Retno Wilis, istri wakil wali kota. Waktu itu, Nunuk sedang drop dan berniat mengundurkan diri sebagai motivator. Tiba-tiba, sebuah SMS masuk ke telepon selulernya. Semakin tinggi pohon, semakin kencang anginnya. Maju terus pantang mundur.

Awalnya, Nunuk tidak mengenali nomor pengirim SMS tersebut. Dia pun menjawab sekenanya. ”Terima kasih, tapi ini siapa?” balasnya saat itu. ”Ternyata dari ibu wakil wali kota. Semangat saya kembali meledak saat itu juga,” ujar mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya tersebut.

Kini, empat tahun sudah Nunuk menjadi motivator. Selama empat tahun itu, dia merasa semakin kuat dalam menghadapi segala hal. Sebab, di SGC, dia ditempa untuk lebih kuat mental dan tahan menghadapi cobaan. Satu hal yang ditanamkan hingga kini, semua tidak ada yang kebetulan dan harus disiapkan secara utuh.

Dedikasinya pada pekerjaan sangat tinggi. Bahkan, dia rela terminal (cuti) dari kuliah S-1 di ITS pada 2008 demi pekerjaannya sebagai motivator. Sebab, tahun itu bertepatan dengan digelarnya SGC di Makassar. Akibatnya, Nunuk harus bolak-balik Surabaya-Makassar.

”Pagi berangkat ke Makassar untuk meeting dan pulang ke Surabaya sore. Langsung kuliah. Nggak kuat kalau begitu terus, mending fokus pada salah satunya dulu,” jelas alumnus SMAN 2 Blitar itu.

Meski sukses menjadikan Surabaya lebih hijau dan berbunga, Nunuk merasa ada yang kurang. Sebab, dia tidak berhasil menghijaukan dan membungakan kawasan Klampis Ngasem, tempat dirinya kos selama ini. ”Kemarin ikut Surabaya Berbunga, tapi kalah,” kata Nunuk tersipu malu.

Categories: serba-serbi
  1. Yohanes
    23 Februari 2010 pada 07:48 | #1

    Saya mau buka usaha daur ulang sampah seperti yang dilakukan di kelurahan Jambangan Surabaya.gimana cara saya mengajukan proposal bantuan dana dan kepada siapa saya tujukan ?? Saya berencana mengutus beberapa orang untuk belajar ke Jambangan agar mereka bisa menjadi pelatih dalam usaha yang saya rencanakan. Saya sekarang tinggal di kota Blitar. mohon bantuan informasinya. terima kasih.

  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.